Jakarta, Bintang.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir merosot dan turun di 158 poin atau 2,6 persen ke level 5.936,15 poin pada perdagangan Senin 12 Oktober 2026.
Pelemahan indeks dipicu jatuhnya saham-saham grup konglomerat seperti Barito, Bakrie, hingga Sinarmas.
Berdasarkan data perdagangan, emiten yang terafiliasi dengan Prajogo Pangestu dari Grup Barito mengalami penurunan tajam. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) melemah 10 persen ke level Rp1.505 per saham, sementara PT Petrosea Tbk (PTRO) terkoreksi hingga 15 persen ke Rp4.040.
Saham Grup Bakrie juga ikut berguguran, di mana PT Bumi Resources Tbk (BUMI) anjlok 8 persen ke Rp165 dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) turun 6 persen ke Rp555. Adapun emiten Grup Sinar Mas melalui PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) ikut terperosok 15 persen ke level Rp965.
Penurunan drastis saham-saham konglomerat ini disebut akibat beredarnya rumor mengenai sanksi dari MSCI (Morgan Stanley Capital International) atau otoritas regulator.
MSCI diperkirakan masih menahan pembekuan (freeze) perlakuan terhadap saham Indonesia menjelang pengumuman akhir Oktober 2026, yang memicu sentimen negatif utama bagi pasar.
Sepanjang hari, IHSG bergerak dalam rentang 5.917 hingga 6.128. Meskipun sempat dibuka di zona hijau pada awal sesi, rumor pembekuan saham konglomerat dengan cepat menarik indeks ke zona merah secara mendalam. Total nilai transaksi perdagangan saham hari ini mencapai Rp12,87 triliun, dengan volume perdagangan sekitar 569,5 juta saham yang ditransaksikan sebanyak 1,86 juta kali.
Sektor industrial menjadi penekan utama (laggard), terutama terseret oleh penurunan tajam saham PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC). Sektor energi juga tertekan hebat seiring merosotnya harga saham BUMI dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA). Sejalan dengan pelemahan IHSG, indeks acuan IDX30 dan LQ45 masing-masing turun 1,41 persen dan 1,79 persen.
Sementara itu, indeks syariah ISSI dan JII turun lebih dalam masing-masing sebesar 3,11 persen dan 3,23 persen, yang mengindikasikan bahwa koreksi pasar kali ini lebih banyak didorong oleh saham-saham non-blue chip.
Jajaran saham yang berhasil menguat di tengah tekanan IHSG dan memimpin barisan top gainers. Saham PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ) melesat 12,81 persen ke Rp2.730, disusul PT Alkindo Naratama Tbk (ALDO) yang menguat 10,42 persen ke Rp1.325, serta PT Habco Trans Maritima Tbk (HATM) yang menanjak 5,45 persen ke level Rp580 per saham.
Sementara untuk saham yang masuk dalam daftar top losers pada penutupan perdagangan didominasi oleh PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk (MBSS) yang anjlok 15 persen ke Rp3.910, PT Petrosea Tbk (PTRO) yang turun 15 persen ke Rp4.040, serta PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang melemah 15 persen ke Rp655.







