5 Mitos Seputar Daging Kurban yang Masih Dipercaya, Nomor 2 Ternyata Keliru

Olahan daging kurban saat Iduladha
Olahan daging kurban saat Iduladha. (Foto Ilustrasi/Freepik)
banner 468x60

Bintang.co.id – Saat Hari Raya Iduladha tiba, daging kurban menjadi bahan utama berbagai hidangan khas keluarga. Mulai dari sate, gulai, tongseng, hingga rendang, semuanya identik dengan momen kebersamaan saat Iduladha.

Namun di balik tradisi memasak daging kurban, masih banyak mitos yang dipercaya masyarakat secara turun-temurun. Padahal, sebagian anggapan tersebut belum tentu benar secara ilmiah maupun teknik memasak.

Jika salah penanganan, daging justru bisa menjadi alot, cepat rusak, bahkan kehilangan cita rasa alaminya. Berikut lima mitos seputar pengolahan daging kurban yang masih sering dipercaya.

1. Daging Kurban Tidak Boleh Langsung Dimasak

Banyak orang percaya daging kurban harus didiamkan semalaman sebelum diolah. Faktanya, daging segar tetap aman dimasak setelah didiamkan beberapa jam di suhu ruang atau disimpan dalam pendingin.

Untuk hidangan berkuah seperti sop atau rawon, daging segar justru menghasilkan kaldu yang lebih gurih dan alami. Sementara pada masakan seperti rendang atau dendeng, penyimpanan semalaman memang dapat membantu memperbaiki tekstur.

2. Daging Mentah Harus Dicuci Sebelum Disimpan

Ini menjadi salah satu kesalahan paling umum saat Iduladha. Mencuci daging mentah sebelum disimpan justru dapat mempercepat pembusukan dan memicu kontaminasi silang di dapur.

Bakteri dari daging bisa menyebar ke wastafel, talenan, hingga peralatan masak lainnya.

Sebagai solusi, simpan daging di kulkas tanpa dicuci. Jika terdapat kotoran, cukup lap menggunakan tisu dapur bersih. Bakteri akan mati saat proses pemasakan dengan suhu tinggi.

3. Semua Lemak Daging Harus Dibuang

Lemak kerap dianggap tidak sehat sehingga banyak orang langsung membuang seluruh bagian lemak pada daging kurban.

Padahal, lemak dalam jumlah wajar justru memberikan rasa gurih, aroma khas, dan tekstur lebih lembut pada masakan.

Untuk olahan seperti sate atau tongseng, lapisan lemak tipis membantu memperkaya rasa kuah dan membuat daging lebih juicy saat dimasak.

4. Merebus Daging Semakin Lama Akan Membuatnya Empuk

Anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Merebus daging terlalu lama dengan suhu tinggi justru bisa merusak serat protein sehingga teksturnya menjadi keras dan kering.

Agar daging empuk, gunakan metode slow cook atau panci presto dengan waktu yang tepat.

Jika menggunakan cara biasa, cukup rebus sekitar 30–45 menit, lalu diamkan daging di dalam air rebusan agar teksturnya tetap lembut dan tidak kehilangan sari rasa.

5. Daging Kurban Tidak Butuh Banyak Bumbu

Sebagian orang menganggap daging kurban sudah memiliki rasa kuat sehingga cukup dimasak dengan bumbu sederhana.

Padahal, daging segar memiliki aroma khas yang cukup tajam dan membutuhkan rempah sebagai penyeimbang rasa.

Gunakan kombinasi bumbu seperti jahe, kunyit, ketumbar, jinten, dan daun jeruk agar aroma masakan lebih sedap dan tidak prengus. Jenis bumbu juga sebaiknya disesuaikan dengan hidangan yang dibuat, seperti gulai, semur, atau tongseng.

Memahami cara mengolah daging kurban dengan benar bukan hanya membuat masakan lebih lezat, tetapi juga menjaga kualitas dan keamanan pangan. Jadi, jangan lagi mudah percaya mitos tanpa mengetahui fakta sebenarnya.

Editor AF Setiawan
banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *