Badan Geologi Ungkap Kondisi Gunung Anak Krakatau, Potensi Tsunami Masih Terus Dipantau

Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi
Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi.
banner 468x60

Bintang.co.id – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus memantau perkembangan kondisi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda menyusul aktivitas erupsi yang berlangsung sejak Sabtu, 5 September 2026.

Pemantauan intensif dilakukan tidak hanya terhadap aktivitas erupsi, tetapi juga perubahan morfologi tubuh gunung. Langkah ini penting mengingat Anak Krakatau memiliki catatan sejarah erupsi yang pernah berkaitan dengan tsunami di kawasan Selat Sunda.

Read More
banner 300x250

Berdasarkan evaluasi Badan Geologi, kondisi tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali setelah peristiwa 22 Desember 2018 hingga saat ini masih relatif kecil.

Kondisi tersebut dinilai belum menunjukkan potensi keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.

Meski demikian, masyarakat tetap perlu mengikuti informasi resmi terkait perkembangan aktivitas gunungapi tersebut.

Badan Geologi menegaskan pemantauan terhadap aktivitas dan perubahan morfologi Gunung Anak Krakatau terus dilakukan secara intensif.

Gunung Anak Krakatau tercatat mengalami erupsi menerus sejak Sabtu 5 September 2026 pukul 23.07 WIB. Aktivitas tersebut disertai suara gemuruh yang terdengar hingga sejumlah wilayah Banten, Jawa Barat, dan Lampung.

Dalam Laporan Khusus Badan Geologi Kementerian ESDM Nomor 1512.Lap/GL.03/BGL/2026, erupsi menerus masih berlangsung hingga pukul 04.40 WIB.

Dari Pos Pengamatan Gunungapi (PGA) Anak Krakatau di Pasauran, Kabupaten Serang, suara gemuruh akibat aktivitas gunung masih terdengar.

Meski tinggi kolom erupsi tidak teramati, semburan merah menyala terlihat terus-menerus. Fenomena tersebut menyerupai lava fountain atau air mancur lava yang dapat menghasilkan aliran lava.

Badan Geologi menyebut erupsi menerus selama beberapa jam yang berkaitan dengan lava fountain merupakan fenomena yang umum terjadi dalam aktivitas vulkanik Anak Krakatau.

Laporan mengenai suara dentuman dan getaran yang dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Barat, Banten, dan Lampung juga diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi yang berlangsung pada waktu bersamaan.

Memiliki Catatan Erupsi Besar

Gunung Anak Krakatau merupakan gunungapi aktif tipe A yang berada di perairan Selat Sunda. Secara administratif, gunung tersebut masuk wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung.

Aktivitasnya dipantau melalui dua pos pengamatan, yakni Pos PGA Anak Krakatau di Kalianda, Lampung Selatan, dan Pos PGA Anak Krakatau di Pasauran, Kabupaten Serang, Banten.

Status aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini berada pada Level III atau Siaga sejak 2 Juli 2026. Seri erupsi tipe Strombolian yang menghasilkan lontaran batu pijar dan abu vulkanik terus berlangsung hingga 5 September 2026.

Perhatian terhadap aktivitas Anak Krakatau tidak terlepas dari sejarah panjang gunung tersebut. Pada 1883, erupsi besar Anak Krakatau tercatat menghasilkan tsunami.

Peristiwa serupa kembali terjadi pada 22 Desember 2018. Saat itu, aktivitas gunung yang berkaitan dengan guncangan gempa bumi disertai longsoran sebagian tubuh Anak Krakatau memicu tsunami di kawasan Selat Sunda.

Setelah peristiwa 2018, erupsi berskala rendah masih berlangsung sebagai bagian dari fase konstruksi atau pertumbuhan kembali tubuh Anak Krakatau hingga 16 Desember 2023. Aktivitas erupsi kemudian kembali tercatat pada 2 Juli 2026.

Badan Geologi memastikan perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan perubahan bentuk tubuh gunung tetap menjadi perhatian utama. Pemantauan dilakukan untuk mengantisipasi setiap perubahan yang berpotensi meningkatkan risiko bagi wilayah di sekitar Selat Sunda.

Editor AF Setiawan
banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *