Bintang.co.id – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) membuat batas antara video nyata dan konten sintetis semakin sulit dikenali. Kondisi ini mendorong platform digital mencari cara untuk memperjelas asal-usul sebuah konten.
CapCut menjadi salah satu platform yang menyiapkan teknologi transparansi untuk konten yang dibuat atau diproses menggunakan fitur berbasis AI. Langkah tersebut diperkenalkan dalam ajang AI Content Fest 2026 sebagai bagian dari upaya mendorong penggunaan AI secara lebih bertanggung jawab.
Salah satu teknologi yang mendapat perhatian adalah invisible watermark atau tanda air tak kasatmata.
Berbeda dengan watermark berupa logo yang terlihat di sudut video, invisible watermark tidak mengganggu tampilan visual. Sistem ini menyisipkan penanda ke dalam berkas digital sehingga pengguna tidak dapat melihatnya secara langsung.
Teknologi tersebut bertujuan membantu memberikan informasi mengenai asal-usul atau proses yang berkaitan dengan sebuah konten berbasis AI.
Dengan pendekatan tersebut, CapCut tidak hanya mengandalkan tanda visual. Platform ini juga mengembangkan konsep provenance atau jejak asal-usul digital untuk membantu pengguna memahami perjalanan sebuah konten.
Capcut Gunakan Standar C2pa
CapCut juga mengadopsi standar C2PA sebagai bagian dari pendekatan transparansi konten.
C2PA atau Coalition for Content Provenance and Authenticity merupakan standar yang memungkinkan informasi mengenai asal-usul dan perubahan sebuah aset digital tersimpan secara terverifikasi.
Informasi provenance dapat membantu pengguna mengetahui bagaimana sebuah konten dibuat atau mengalami perubahan dalam proses produksi.
Namun, Content Credentials tidak otomatis menentukan apakah sebuah video benar atau salah. Sistem tersebut lebih tepat dipahami sebagai catatan mengenai riwayat digital sebuah konten.
Karena itu, watermark tak kasatmata juga bukan bukti tunggal bahwa sebuah video benar-benar menggambarkan kejadian di dunia nyata.
Teknologi provenance menjadi semakin relevan seiring meningkatnya penggunaan AI generatif dan kekhawatiran terhadap deepfake.
Video hasil manipulasi kini dapat terlihat semakin meyakinkan. Konten semacam itu dapat hadir untuk hiburan, produksi kreatif, maupun penyebaran informasi yang menyesatkan.
Bagi kreator, sistem provenance dapat membantu memberikan konteks ketika mereka menggunakan teknologi generatif dalam proses produksi. Sementara bagi penonton, informasi tersebut dapat menjadi salah satu petunjuk saat menilai sebuah konten.
Watermark Ai Berbeda Dengan Watermark Visual
CapCut juga membedakan watermark AI dengan watermark visual yang terlihat pada video.
Watermark visual dapat berkaitan dengan template, aset, atau fitur tertentu dan tampil secara langsung pada layar. Sementara itu, sinyal tak kasatmata berfungsi sebagai penanda yang berkaitan dengan provenance konten.
Perbedaan ini penting agar pengguna tidak menganggap seluruh watermark memiliki fungsi yang sama.
Kemampuan untuk membaca atau mempertahankan informasi provenance juga bergantung pada sistem dan platform yang digunakan. Perjalanan sebuah file melalui berbagai layanan dapat memengaruhi metadata atau kredensial digital yang menyertainya.
Karena itu, teknologi penanda digital tidak menggantikan kebutuhan untuk memeriksa konteks, sumber informasi, dan bukti lain ketika seseorang ingin memastikan kebenaran sebuah video.
Di tengah pertumbuhan konten berbasis AI, transparansi menjadi bagian penting dalam ekosistem kreator digital.
Langkah CapCut menunjukkan bahwa perkembangan teknologi penyuntingan video tidak hanya berfokus pada kreativitas. Industri juga mulai memberi perhatian pada persoalan asal-usul, transparansi, dan akuntabilitas konten.
Ke depan, penanda digital seperti invisible watermark dan sistem provenance berpotensi membantu masyarakat memahami perjalanan sebuah video di tengah semakin canggihnya teknologi AI.



