Sulit Bedakan Video Asli dan AI? CapCut Siapkan Watermark Gaib

Ilustrasi CapCut dengan teknologi invisible watermark berbasis AI. ( Foto_ Dikreasikan Oleh AI)
Ilustrasi CapCut dengan teknologi invisible watermark berbasis AI. ( Foto_ Dikreasikan Oleh AI)
banner 468x60

Bintang.co.id – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) membuat batas antara video nyata dan konten sintetis semakin sulit dikenali. Kondisi tersebut mendorong platform digital mencari cara untuk memberikan informasi lebih jelas mengenai asal-usul sebuah konten.

CapCut ikut mengembangkan pendekatan tersebut melalui teknologi transparansi untuk konten yang dibuat atau diproses menggunakan fitur berbasis AI. CapCut memperkenalkan langkah ini dalam ajang AI Content Fest 2026 sebagai bagian dari upaya mendorong penggunaan AI secara lebih bertanggung jawab.

Read More
banner 300x250

Salah satu teknologi yang mendapat perhatian ialah invisible watermark atau tanda air tak kasatmata. Berbeda dengan watermark berupa logo yang terlihat di sudut video, teknologi ini menyisipkan sinyal penanda ke dalam berkas digital tanpa mengubah tampilan visual secara langsung.

Invisible Watermark Jadi Penanda Konten AI

Teknologi tersebut dapat membantu memberikan informasi mengenai asal-usul atau proses yang berkaitan dengan sebuah konten berbasis AI. Dengan begitu, CapCut tidak hanya mengandalkan tanda visual untuk memberikan konteks kepada pengguna.

Pendekatan tersebut juga berkaitan dengan konsep provenance, yakni informasi mengenai riwayat atau asal-usul sebuah aset digital. Data provenance dapat membantu pengguna memahami bagaimana sebuah konten dibuat atau mengalami perubahan dalam proses produksi.

Namun, informasi provenance tidak otomatis menentukan apakah sebuah video benar atau salah. Penanda digital juga bukan bukti tunggal bahwa suatu video benar-benar merekam kejadian di dunia nyata.

Konteks tersebut penting karena teknologi AI generatif terus berkembang. Video hasil manipulasi kini dapat terlihat semakin meyakinkan dan muncul dalam berbagai kebutuhan, mulai dari hiburan hingga produksi kreatif.

Bagi kreator, sistem provenance dapat memberikan konteks ketika mereka menggunakan teknologi AI dalam proses produksi. Sementara itu, penonton dapat memanfaatkan informasi tersebut sebagai salah satu petunjuk ketika menilai sebuah konten.

CapCut Gunakan Standar C2PA

Selain invisible watermark, CapCut juga menerapkan standar C2PA (Coalition for Content Provenance and Authenticity) sebagai bagian dari pendekatan transparansi konten.

C2PA menyediakan kerangka untuk menyimpan informasi mengenai asal-usul dan perubahan sebuah aset digital secara dapat diverifikasi. Sistem tersebut berkaitan dengan Content Credentials, yang berfungsi sebagai catatan provenance suatu konten.

Dengan mekanisme itu, informasi mengenai proses pembuatan atau perubahan konten dapat ikut menyertai aset digital dalam ekosistem yang mendukungnya.

Meski demikian, Content Credentials tidak dirancang untuk memberikan vonis bahwa sebuah video benar atau palsu. Sistem tersebut lebih tepat dipahami sebagai catatan mengenai riwayat digital sebuah aset.

Karena itu, pengguna tetap perlu memeriksa konteks, sumber informasi, dan bukti lain ketika ingin memastikan kebenaran sebuah video.

Watermark AI Berbeda dari Watermark Visual

CapCut juga membedakan watermark AI dengan watermark visual yang tampil langsung pada layar.

Watermark visual dapat berkaitan dengan template, aset, atau fitur tertentu. Tanda tersebut terlihat secara langsung pada video. Sementara itu, sinyal tak kasatmata berkaitan dengan informasi provenance dan tidak mengganggu tampilan visual.

Perbedaan tersebut penting agar pengguna tidak menganggap semua jenis watermark memiliki fungsi yang sama.

Kemampuan untuk membaca dan mempertahankan informasi provenance juga bergantung pada sistem yang digunakan. Perjalanan sebuah file melalui berbagai layanan dapat memengaruhi metadata atau kredensial digital yang menyertainya.

Dengan demikian, teknologi penanda digital tidak menggantikan kebutuhan untuk melakukan verifikasi. Pengguna tetap perlu melihat sumber, konteks, dan informasi pendukung sebelum mempercayai sebuah video.

Di tengah pertumbuhan konten berbasis AI, transparansi menjadi bagian penting dalam ekosistem kreator digital. Langkah CapCut menunjukkan bahwa perkembangan teknologi penyuntingan video tidak hanya berfokus pada kreativitas, tetapi juga mulai memperhatikan asal-usul dan akuntabilitas konten.

Invisible watermark dan sistem provenance seperti C2PA pada akhirnya dapat menjadi bagian dari upaya memberikan konteks lebih jelas mengenai perjalanan sebuah konten di tengah perkembangan AI yang semakin cepat.

Editor Rita Darmayanti
banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *