Bintang.co.id – Keputusan sejumlah maskapai internasional menghentikan penerbangan menuju Timur Tengah bukanlah fenomena baru. Setiap kali konflik bersenjata meningkat di kawasan tersebut, keselamatan penerbangan menjadi prioritas utama yang memaksa operator mengubah bahkan membatalkan rute.
Gelombang penangguhan penerbangan kembali terjadi setelah konflik antara Amerika Serikat dan Iran meningkat dalam beberapa hari terakhir.
Dilansir dari Al Jazeera, eskalasi terbaru dipicu serangan Amerika Serikat ke sejumlah wilayah Iran yang kemudian dibalas dengan aksi militer Iran terhadap sejumlah sasaran Amerika Serikat di kawasan.
Situasi tersebut membuat tingkat risiko penerbangan sipil meningkat, terutama di sekitar wilayah Teluk Persia dan Selat Hormuz.
Berbeda dengan kendaraan di darat, pesawat sipil harus melintasi ruang udara yang dipantau ketat.
Ketika terjadi konflik bersenjata, maskapai umumnya memilih menghindari wilayah yang berpotensi menjadi lokasi serangan rudal, drone, maupun aktivitas militer.
Selain faktor keselamatan penumpang dan awak kabin, maskapai juga mempertimbangkan tingginya biaya operasional jika harus terbang melewati zona berisiko.
Perubahan rute penerbangan membuat perjalanan menjadi lebih panjang, konsumsi bahan bakar meningkat, dan biaya asuransi penerbangan ikut melonjak.
Fenomena ini sebelumnya juga pernah terjadi dalam berbagai konflik di Timur Tengah, mulai dari perang Teluk, konflik Suriah, hingga meningkatnya ketegangan di Laut Merah.
Karena itu, penangguhan penerbangan ke kawasan tersebut bukan hanya dipengaruhi perkembangan politik, tetapi juga hasil evaluasi keselamatan yang dilakukan masing-masing maskapai berdasarkan informasi dari otoritas penerbangan sipil internasional.
Saat ini sejumlah maskapai besar seperti Air France, Lufthansa, British Airways, Singapore Airlines, KLM, hingga Cathay Pacific memilih memperpanjang penghentian layanan menuju beberapa kota di Timur Tengah sampai kondisi keamanan dinilai kembali kondusif.
Selama konflik masih berlangsung, maskapai diperkirakan akan terus melakukan evaluasi terhadap rute-rute internasional yang melintasi kawasan tersebut guna memastikan keselamatan penumpang tetap menjadi prioritas utama.







