Jakarta, Bintang.co.id – Ancaman El Niño yang diperkirakan bertahan hingga awal 2027 menimbulkan risiko bagi produksi pertanian Indonesia. Meski demikian, Anggota Komisi IV DPR RI Riyono menyebut cadangan pangan nasional saat ini masih cukup untuk memenuhi kebutuhan selama 5–10 bulan ke depan, bahkan jika penurunan produksi mencapai 20 persen.
Riyono mengatakan, dampak kekeringan terhadap produksi pertanian perlu terus dipantau untuk mengetahui seberapa besar pengaruhnya terhadap ketersediaan stok pangan nasional.
Pemerintah juga diminta memastikan pasokan tetap terjaga dan dapat dijangkau masyarakat.
“Bagaimana dengan kondisi musim El Nino yang cukup keras ini, tentu kemungkinan adanya penurunan produksi pasti ada, tetapi tentu kita akan mengikuti sejauh mana kemudian penurunan ini sampai di angka berapa persen. Katakanlah misalkan sampai angka 20 persen pun untuk saat ini dengan cadangan pangan nasional yang kita miliki, ini masih cukup untuk kebutuhan minimal 5-10 bulan ke depan,” ujar Riyono, dikutip dari laman Parlementaria, 27 Oktober 2026.
Pernyataan tersebut menjadi gambaran kondisi cadangan pangan menurut Riyono. Namun, kecukupan stok nasional perlu diimbangi dengan pengamanan distribusi, terutama ke wilayah yang bergantung pada pasokan dari luar daerah.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menekankan pentingnya informasi iklim sebagai dasar pengambilan keputusan di sektor pangan. Data prakiraan cuaca diperlukan untuk menyesuaikan kalender tanam, mengelola ketersediaan air, dan mengantisipasi gangguan produksi pertanian.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan hal tersebut dalam Rapat Koordinasi Terbatas Bidang Pangan di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Senin 26 Oktober 2026.
Rapat yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan itu membahas antisipasi ketidakpastian global dan risiko El Niño terhadap produksi, pasokan, harga, serta ketahanan pangan nasional.
Berdasarkan data BMKG yang disampaikan dalam materi tersebut, Indeks Niño 3.4 pada periode Agustus–Oktober 2026 mencapai +3,05 derajat Celsius. Pada periode yang sama, indeks Indian Ocean Dipole (IOD) tercatat positif sebesar +0,63.
BMKG memperkirakan El Niño masih bertahan hingga awal 2027. Kondisi tersebut perlu diwaspadai karena berpotensi memperpanjang periode kering dan meningkatkan keterbatasan air di sejumlah wilayah.
“Terdapat dua kondisi yang perlu kita antisipasi bersama, yaitu dampak lanjutan El Niño dan masuknya musim hujan secara bertahap. Informasi iklim perlu menjadi dasar penentuan waktu tanam, pengelolaan air, dan perlindungan produksi pangan,” ujar Faisal.
Menurut BMKG, dampak lanjutan El Niño dan masuknya musim hujan secara bertahap harus diperhitungkan bersama.
Penentuan waktu tanam dan pengelolaan air perlu menyesuaikan kondisi iklim setiap wilayah agar risiko gangguan produksi dapat ditekan.







