Anxiety pada Generasi Muda, Yuk Cari Tahu Penyebabnya

Ilustrasi Generasi Muda yang terpapar Anxiety efek Screentime media Sosial ( Foto_dikreasikan oleh AI)
Ilustrasi Generasi Muda yang terpapar Anxiety efek Screentime media Sosial ( Foto_dikreasikan oleh AI)
banner 468x60

Bintang.co.id. – Anxiety pada generasi muda menjadi persoalan yang semakin mendapat perhatian di tengah pesatnya perkembangan teknologi. Dunia digital memang memberikan banyak kemudahan, tetapi penggunaan yang tidak terkendali juga dapat menambah tekanan psikologis.

Anak muda kini menggunakan gawai untuk belajar, bekerja, berkomunikasi, mencari hiburan, hingga mengikuti berbagai informasi. Intensitas penggunaan layar yang tinggi dapat mengurangi waktu tidur, aktivitas fisik, dan interaksi sosial secara langsung.

Read More
banner 300x250

Dokter Tirta Mandira Hudhi, dokter sekaligus edukator kesehatan di media sosial, mengingatkan bahwa screen time yang terlalu tinggi dapat mengganggu pola tidur dan konsentrasi. Kebiasaan memeriksa notifikasi hingga larut malam juga dapat membuat otak sulit beristirahat.

Media Sosial Memicu Perbandingan Sosial

Media sosial menghadirkan ruang perbandingan yang hampir tanpa batas. Anak muda dapat membandingkan penampilan, pendidikan, pekerjaan, hubungan, hingga pencapaian dengan kehidupan orang lain.

Padahal, pengguna media sosial biasanya hanya menampilkan sisi terbaik kehidupannya. Kondisi tersebut dapat menciptakan kesan bahwa orang lain selalu lebih sukses, bahagia, dan sempurna.

Tekanan semakin besar ketika seseorang merasa harus membangun citra tertentu di media sosial. Mereka mungkin merasa wajib terlihat produktif, menarik, bahagia, dan berhasil demi mendapatkan pengakuan.

Selain media sosial, ketidakpastian pendidikan, pekerjaan, ekonomi, dan masa depan juga dapat meningkatkan kecemasan. Arus informasi yang berlangsung sepanjang hari membuat anak muda terus menerima berbagai kabar mengenai persaingan dan perubahan kehidupan.

Kenali Batas antara Cemas dan Gangguan Kecemasan

Tidak semua rasa khawatir menunjukkan gangguan kecemasan. Rasa cemas merupakan respons manusiawi ketika seseorang menghadapi tekanan atau ketidakpastian.

Namun, seseorang perlu mencari bantuan profesional ketika kecemasan berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu tidur, konsentrasi, hubungan sosial, maupun aktivitas sehari-hari.

Keluarga dapat membantu dengan mendengarkan tanpa menghakimi. Anak muda juga dapat membangun batas sehat dengan mematikan notifikasi, mengurangi screen time, berolahraga, tidur cukup, dan menyediakan waktu tanpa gawai.

Pendidikan Perlu Membangun Ketahanan Mental

Sekolah turut memiliki peran penting dalam menghadapi anxiety pada generasi muda. Pendidikan tidak hanya perlu mengejar prestasi akademik, tetapi juga membangun kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kepercayaan diri, dan ketahanan mental.

Literasi digital juga menjadi bekal penting. Anak muda perlu mampu menyaring informasi, mengenali manipulasi konten, serta menggunakan media sosial dan kecerdasan buatan secara bertanggung jawab.

Pada akhirnya, keluarga, sekolah, pemerintah, komunitas, dan tenaga profesional perlu bekerja sama menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan mental. Dengan dukungan yang tepat, generasi muda dapat menghadapi perkembangan teknologi tanpa kehilangan arah dan kepercayaan diri.

Editor Rita Darmayanti
banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *