Kenali Speech Delay pada Anak, Jangan Tunda Pemeriksaan dan Intervensi Dini

Ilustrasi Therapist mendampingi anak berlatih berbicara sebagai stimulasi speech delay. (Foto_BantenTV)
Ilustrasi Therapist mendampingi anak berlatih berbicara sebagai stimulasi speech delay. (Foto_BantenTV)
banner 468x60

Bintang.co.id- Ketika anak belum banyak berbicara, sebagian orang tua memilih menunggu karena menganggap setiap anak memiliki kecepatan perkembangan berbeda. Namun, menunggu tanpa memantau perkembangannya dapat mengurangi kesempatan anak memperoleh bantuan sejak awal.

Speech delay merupakan kondisi ketika kemampuan bicara atau bahasa anak belum mencapai tahapan perkembangan sesuai usianya. Kondisi ini dapat memengaruhi cara anak berkomunikasi, berinteraksi, dan menyampaikan kebutuhannya.

Dokter spesialis anak, dr. Dewi Kartika Suryani, Sp.A., menjelaskan bahwa orang tua perlu mengamati kemampuan bicara sekaligus bahasa anak. Keduanya saling mendukung, tetapi mempunyai fungsi yang berbeda.

Speech delay tidak hanya berkaitan dengan sedikitnya jumlah kata yang anak kuasai. Orang tua juga perlu memperhatikan kemampuan anak memahami pesan, mengikuti arahan, dan mengungkapkan keinginannya.

Kemampuan komunikasi berperan penting dalam perkembangan sosial dan emosional anak. Melalui komunikasi, anak membangun hubungan dengan keluarga sekaligus mengenali lingkungan sekitarnya.

Orang tua perlu memahami perbedaan antara bicara dan bahasa agar dapat mengenali hambatan secara lebih tepat. Pemahaman tersebut juga membantu mereka menjelaskan kekhawatiran saat berkonsultasi dengan tenaga profesional.

Bicara berkaitan dengan kemampuan fisik untuk menghasilkan suara dan mengucapkan kata. Anak melibatkan mulut, lidah, bibir, pernapasan, dan sistem suara ketika berbicara.

Sementara itu, bahasa mencakup kemampuan memahami serta menggunakan simbol untuk berkomunikasi. Anak menggunakan bahasa untuk menyampaikan pikiran, perasaan, kebutuhan, dan keinginannya.

Bahasa reseptif merujuk pada kemampuan anak memahami perkataan, pertanyaan, atau instruksi. Anak mungkin mampu mengambil mainan ketika orang tua memintanya meskipun belum lancar menyebut nama benda tersebut.

Bahasa ekspresif berkaitan dengan kemampuan anak mengutarakan gagasan atau kebutuhan melalui kata, kalimat, maupun bentuk komunikasi lain. Hambatan pada bagian ini cukup sering membuat anak sulit mengungkapkan apa yang ia rasakan.

Anak Memahami Perintah, tetapi Kesulitan Mengucapkan Kata

Menurut dr. Dewi, sebagian anak yang menjalani pemeriksaan tumbuh kembang menunjukkan hambatan bahasa ekspresif. Mereka memahami ucapan orang tua, tetapi hanya menguasai sedikit kata untuk berkomunikasi.

Sebagai contoh, anak dapat mengambil gelas saat orang tua memberikan perintah. Namun, ia belum mampu mengatakan “minum” ketika merasa haus atau meminta gelas dengan kata-kata.

Orang tua terkadang menganggap kondisi tersebut sebagai kemalasan berbicara. Padahal, keterbatasan kosakata dapat membuat anak kesulitan menjelaskan kebutuhan dan perasaannya.

Anak mungkin merasa lapar, takut, sedih, marah, atau tidak nyaman. Ketika belum menemukan kata yang tepat, ia dapat menyampaikannya melalui tangisan, teriakan, gerakan, atau perilaku tertentu.

Kesulitan berkomunikasi juga dapat memicu frustrasi karena orang lain tidak segera memahami maksud anak. Kondisi tersebut sering membuat orang tua kebingungan saat menghadapi perubahan perilakunya.

Kemampuan bahasa ekspresif yang berkembang dengan baik membantu anak menyampaikan kebutuhan secara lebih jelas. Orang tua pun dapat merespons sebelum emosi anak semakin meningkat.

Komunikasi yang lancar juga berpotensi mengurangi tantrum akibat kesalahpahaman. Meski demikian, orang tua tidak boleh menjadikan setiap tantrum sebagai bukti bahwa anak mengalami speech delay.

Setiap anak memang tumbuh dengan kecepatannya masing-masing. Namun, perbedaan itu tidak berarti orang tua boleh mengabaikan tanda yang terus muncul atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.

Intervensi Dini Mendukung Kemampuan Komunikasi Anak

Pada usia dua tahun, kebanyakan anak mulai menggabungkan sedikitnya dua kata, seperti “mau susu”. Namun, tonggak tersebut berfungsi sebagai panduan pemantauan, bukan alat diagnosis mandiri.

Orang tua sebaiknya tidak hanya membandingkan anak dengan teman seusianya. Mereka dapat mencatat kosakata, respons terhadap panggilan, kemampuan mengikuti perintah, serta perubahan keterampilan anak dari waktu ke waktu.

Jika anak belum mencapai tonggak perkembangan atau kehilangan kemampuan yang sebelumnya sudah ia kuasai, orang tua perlu segera berkonsultasi. Dokter spesialis anak dapat menilai tumbuh kembang secara menyeluruh dan menentukan langkah berikutnya.

Tenaga profesional akan memeriksa kemampuan anak memahami bahasa, menghasilkan suara, mengucapkan kata, berinteraksi, dan merespons lingkungan. Dokter juga dapat menyarankan pemeriksaan pendengaran atau penilaian lanjutan sesuai kebutuhan anak.

Orang tua tetap memegang peran utama melalui interaksi sehari-hari. Mereka dapat mengajak anak berbicara, membacakan cerita, menyebut nama benda, bernyanyi, dan bermain bersama.

Gunakan kalimat sederhana dan jelas saat mengajak anak berbicara. Berikan waktu agar anak merespons tanpa terburu-buru menyela, menebak, atau langsung memenuhi permintaannya.

Hindari memaksa anak mengucapkan kata dengan tekanan berlebihan. Pengamatan cermat, interaksi hangat, konsultasi profesional, dan intervensi dini dapat membantu anak membangun kemampuan komunikasi serta kehidupan sosial yang lebih baik.

Editor Rita Darmayanti
banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *