Bintang.co.id – Harga minyak dunia kembali ditutup naik hampir 4 persen per barel pada perdagangan Rabu 23 September 2026 waktu setempat, dalam perdagangan yang berfluktuasi.
Hal ini lantaran konflik di Timur Tengah kembali memanas, setelah kedua kepala negara bersikukuh tidak akan pernah menyerah. Bahkan, keduanya sama-sama melakukan perlawanan dalam pidatonya di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, pada Rabu.
Dilansir dari IDX Channel, harga minyak mentah Brent secara berjangka ditutup melesat 3,86 persen menjadi USD103,08 per barel.
Sementara itu, minyak mentah lainnya seperti West Texas Intermediate (WTI) juga meningkat 1,81 persen menjadi USD92,16 per barel.
Harga minyak ini naik dipicu oleh pidato Pezeshkian Pezeshkian, yang mengatakan Teheran tidak akan pernah menyerah kepada AS, dan memilih tetap menggunakan jalur diplomasi.
Sehari sebelumnya, dalam forum yang sama, Trump mengancam Iran yang bisa saja melenyapkan Iran. Saat ini, Teheran masih meninjau respons AS atas proposal untuk mengakhiri permusuhan, meski masih terdapat banyak perbedaan, kata seorang pejabat senior Iran kepada Reuters.
Pejabat tersebut mengatakan pembukaan kembali Selat Hormuz dan pencabutan blokade laut AS terhadap Iran menjadi pembahasan dalam perundingan tidak langsung pada Selasa 22 September 2026.
Namun, Kepala Keamanan Iran Mohsen Rezaei, mengatakan pada Rabu, Iran tidak akan membuka Selat Hormuz selama persyaratan masih belum dipenuhi.
Meskipun di sisi lain, persediaan minyak mentah AS meningkat 3 juta barel menjadi 426,4 juta barel pada pekan yang berakhir 18 September 2026, berdasarkan data Energy Information Administration (EIA).
Hasil tersebut justru berlawanan dengan ekspektasi analis yang disurvei Reuters. Mereka sebelumnya memperkirakan persediaan minyak mentah AS turun 641.000 barel meski stok bahan bakar tercatat turun.
Pergerakan harga minyak juga dipengaruhi perkembangan di pasar produk olahan.
Sekitar 5 persen, kontrak diesel ultra-rendah sulfur turun setelah Politico melaporkan pemerintahan Trump sedang menyiapkan rencana larangan ekspor diesel selama 90 hari. Namun hal tersebut dibantah oleh Gedung Putih.
Menteri Energi AS Chris Wright sebelumnya mengatakan pada Rabu bahwa larangan ekspor diesel tidak akan efektif.
Sejumlah analis dan pelaku pasar juga mengingatkan bahwa kebijakan tersebut tidak membantu banyak dalam meredakan tingginya harga energi, justru akan berpotensi memperburuk pasokan global dan menambah gangguan terhadap perekonomian.







