OJK Perkuat Ekosistem Padi Lebak, Bidik Hilirisasi Pertanian

rangkaian Program PED pada 13–14 Oktober 2026, OJK bersama para pemangku kepentingan menggelar Focus Group Discussion (FGD). (Foto_BantenTV)
rangkaian Program PED pada 13–14 Oktober 2026, OJK bersama para pemangku kepentingan menggelar Focus Group Discussion (FGD). (Foto_BantenTV)
banner 468x60

Bintang.co.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Banten memperkuat ekosistem komoditas padi di Kabupaten Lebak melalui sinergi pembiayaan, pengolahan hasil panen, perlindungan risiko, dan perluasan akses pasar. Langkah ini bertujuan meningkatkan nilai tambah pertanian sekaligus mendorong kesejahteraan petani lokal.

OJK menginisiasi kolaborasi tersebut bersama Pemerintah Kabupaten Lebak dan lembaga jasa keuangan (LJK) melalui Program Pengembangan Ekonomi Daerah (PED). Enam pihak menandatangani nota kesepahaman dalam kegiatan yang dihadiri Bupati Lebak Moch. Hasbi Asyidiki Jayabaya dan Kepala OJK Provinsi Banten Adi Dharma di Kabupaten Lebak, Rabu (14/10/2026).

Read More
banner 300x250

Keenam pihak tersebut meliputi Pemerintah Kabupaten Lebak, PT Lebak Niaga (Perseroda), PT BPR Lebak Sejahtera (Perseroda), BPJS Ketenagakerjaan, PT Permodalan Nasional Madani (PNM), dan PT Asuransi Jasa Indonesia (Persero) atau Jasindo.

Kepala OJK Provinsi Banten Adi Dharma menegaskan bahwa kolaborasi industri jasa keuangan berperan penting dalam memperkuat ekonomi daerah. Menurutnya, pengembangan komoditas padi membutuhkan dukungan terpadu dari sektor pembiayaan hingga pemasaran.

“Pembangunan ekonomi daerah tidak dapat sepenuhnya mengandalkan APBD. Karena itu, OJK mendorong sinergi perbankan, lembaga pembiayaan, asuransi, dan BPJS Ketenagakerjaan untuk memperkuat ekosistem komoditas padi dari hulu hingga hilir,” kata Adi.

Ia berharap kolaborasi tersebut mampu menghadirkan pembiayaan, pendampingan usaha, dan perlindungan risiko secara terpadu sehingga petani memperoleh manfaat nyata dan perekonomian daerah tumbuh lebih kuat.

Bupati Lebak Moch. Hasbi Asyidiki Jayabaya menyambut baik kolaborasi tersebut. Ia menilai hilirisasi pertanian menjadi langkah penting untuk meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan daerah.

“Hilirisasi harus dimulai dari daerah. Kita ingin membangun ekosistem pertanian yang saling terhubung antara petani, BUMD, lembaga jasa keuangan, dan mitra pasar,” ujar Hasbi.

Ia menegaskan, Pemerintah Kabupaten Lebak berkomitmen memperkuat kerja sama agar pasar menyerap hasil panen petani secara optimal, nilai tambah ekonomi tetap berada di daerah, dan kesejahteraan masyarakat meningkat.

Pengembangan ekosistem padi menjadi strategis karena sebagian gabah dari Banten masih mengalir ke luar daerah. Padahal, penguatan pengolahan lokal berpotensi meningkatkan nilai tambah komoditas sebelum beras dipasarkan kepada konsumen.

Melalui kerja sama ini, setiap pihak menjalankan peran sesuai kewenangan dan kapasitasnya. PT Lebak Niaga menangani pengolahan dan pemasaran hasil pertanian, sedangkan PT BPR Lebak Sejahtera mendukung layanan keuangan bagi pelaku usaha dalam rantai pasok padi.

PNM membuka peluang pembiayaan ultra mikro dan pendampingan usaha, terutama bagi petani perempuan serta pelaku UMKM perempuan. Sementara itu, BPJS Ketenagakerjaan mendorong perluasan kepesertaan jaminan sosial ketenagakerjaan bagi petani dan pekerja.

Jasindo juga membuka peluang perlindungan terhadap risiko pertanian, aset usaha, dan distribusi hasil pertanian. Dukungan tersebut diharapkan memperkuat keberlanjutan usaha sekaligus mengurangi kerentanan petani terhadap risiko usaha.

Sebagai bagian dari penguatan ekosistem, Pemerintah Kabupaten Lebak menargetkan peningkatan penyerapan gabah lokal pada musim panen raya 2027. Pemerintah daerah menyiapkan penguatan sarana pascapanen, akses pasar, dan tata kelola usaha yang profesional untuk mendukung target tersebut.

Pemkab Lebak juga merencanakan dukungan pembiayaan bagi petani melalui BPR dan lembaga keuangan mikro milik pemerintah daerah. Rencana itu mencakup pengalokasian subsidi bunga dalam APBD 2027 yang akan ditindaklanjuti melalui mekanisme perencanaan dan penganggaran sesuai ketentuan.

Dalam rangkaian Program PED pada 13–14 Oktober 2026, OJK bersama para pemangku kepentingan menggelar Focus Group Discussion (FGD). Forum tersebut membahas penguatan pasokan gabah lokal, kebutuhan modal kerja, alternatif pembiayaan musiman, kesinambungan pasar, perlindungan risiko usaha, dan jaminan sosial ketenagakerjaan.

Dalam forum tersebut, PT Lebak Niaga menyampaikan bahwa kapasitas serapan unit penggilingan padi telah meningkat menjadi sekitar 80 ton gabah per hari. Unit tersebut menghasilkan sekitar 40 ton beras per hari.

Kapasitas ini membuka peluang bagi peningkatan penyerapan gabah petani lokal sekaligus memperkuat industri pengolahan padi di Kabupaten Lebak.

Rangkaian kegiatan juga mencakup pleno Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Kabupaten Lebak pada Rabu (14/10/2026). Kegiatan tersebut ditandai dengan penandatanganan berita acara untuk memperkuat koordinasi percepatan akses keuangan daerah.

Ke depan, OJK Provinsi Banten akan memfasilitasi koordinasi antara PT Lebak Niaga dan industri perbankan untuk mendalami kebutuhan pembiayaan serta mendorong penyusunan langkah tindak lanjut oleh masing-masing pihak.

Penyediaan pembiayaan dan perlindungan risiko tetap mengacu pada penilaian kelayakan usaha, prinsip kehati-hatian, dan ketentuan yang berlaku.

Melalui kolaborasi ini, OJK berharap ekosistem komoditas padi di Kabupaten Lebak dapat menjadi model sinergi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan industri jasa keuangan. Upaya tersebut diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan, memperluas akses keuangan, dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif serta berkelanjutan.

Editor Rita Darmayanti
banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *